Minggu, 30 November 2008
Sabtu, 29 Maret 2008
SALAH NYA KODOK (PART 1)
Pernah baca buku nya M. Fauzil Adhim khan...??? Yang judul nya SALAHNYA KODOK..??
Saya baca buku tersebut sudah lama sekali. Tapi..tiba-tiba dua minggu yang lalu teringat kembali dengan buku itu, karena Keponakan saya yang lucu (Disya Shaliha, 6thn), memukul sebuah bangku yang jelas-jelas tidak punya salah sama sekali.
Kejadiannya begini....
Saat itu, kami sedang makan siang bersama di Wendys, Bintaro Plasa. Seperti biasanya..saat makan, Disya berlari ke sana ke mari dengan lincahnya. Saya dan ibu nya (kakak saya) sedang asyik ngobrol. Tiba-tiba, Disya meloncat ke bangku yang kosong yang ada di belakang ibunya. Namun sayang, salah satu kakinya tersangkut di pinggir kursi sehingga dirinya limbung dan wajahnya terjerembab di sandaran kursi. Seketika saja, tangan mungilnya memukul kursi tersebut.
Saya yang melihat kejadian tersebut, sontak merasa kaget. Selama ini kakak saya tidak pernah mengajarkan hal tersebut padanya. Saya yakin betul dengan pola pendidikan kakak saya. Tambah lagi saya sudah menstanfer pengetahuan saya pada kakak saya tersebut dengan meminjamkan buku SALAHNYA KODOK, dan kami sempat berdiskusi panjang tentang buku tersebut. Yang intinya, kami berdua setuju dengan isi buku SALAH NYA KODOk itu
Maka saya pun bertanya pada Disya...
"Sayang..kenapa bangku nya kamu pukul?"
"Abis...bangkunya nakal T'em (panggilan sayang dari keponakan2 saya).." jawabnya. "Nakal..kenapa?"
"Iya,nakal...abis bikin Disya jadi jatuh:" jawabnya lagi
Saya langsung memandang kakak saya. Terlihat dia pun kaget dengan jawaban anaknya itu. Namun dia memandang balik pada saya, dari sinar matanya tersirat bahwa saya diizinkan untuk melanjutkan diskusi saya dengan Disya.
"Sayang...bangku nya tidak nakal...tapi kamu nya yang kurang hati-hati. Khan...dari tadi bangku nya diem aja...ga bergerak sama sekali" ucap saya. "Besok-besok kamu harus lebih hati-hati ya"
"Ga...T'em...bangkunya emang nakal...dia tadi iseng..sengaja bikin aku jatuh"
"Sayang..dari tadi aku ga liat bangku itu bergerak. Jadi gimana mungkin dia mau iseng?"
"Bergerak koq T'em...Pokoknya bangku ini nakal" Disya mulai menunjukkan "taring"nya. Keponakan saya yang satu ini memang punya pendirian yang sangat keras. Tapi jika diajak diskusi, dia mau merubah pendiriannya.
"Ga sayang...bangkunya ga nakal" sergah saya...
"Nakal T'em.." Disya mulai pasang wajah cemberut..
Detik itu saya terdiam. Saya pikir sebaiknya saya hentikan sementara perdebatan kecil kami. Saya mencoba mengoreksi diri. Apa pilihan kata yang saya pakai salah..sehingga komunikasi kami kurang efektif? Apa memang si makhluk mungil itu sedang menunjukan jati dirinya?
Sekali lagi...saya tatap wajah kakak saya yang tepat ada di hadapan. Dia hanya mengangkat bahunya. Akhirnya kami memilih untuk menunda...diskusi dengan Disya..dan kami terlibat dengan percakapan yang lain.
Setelah beberapa saat, barulah kakak saya mengungkap kekecewaan atas sikap Disya tadi. Dia yakin benar bahwa selama ini, dia tidak mencontohkan "SALAHNYA KODOK" pada Disya. Dia pun yakin bahwa Di sekolahnya (TK HOM PIM PA) juga tidak di contohkan hal tersebut.
JADI SIAPA DONG PELAKUNYA?
Selidik punya selidik....ternyata.. Si Mungil Disya...dapat "pelajaran" tersebut dari Guru TPA nya..
"Hebat juga yaa..." batin saya. "Seorang guru yang ketemu dengan anak didiknya hanya beberapa jam dan beberapa hari dalam seminggu, bisa merubah pola pikir anak. Padahal kami, selama 5 tahun berusaha mendidik Disya tanpa Menyalahkan kodok "
Untungnya...setelah beberapa saat...kami (saya dan kakak saya) bisa memberikan penjelasan pada Disya. Dan untungnya lagi Disya bisa menerima penjelasan kami bedua.
"Duuuhhhh....Disya ku sayang...semoga kamu tidak menjadi 'anak kodok' yaaaa", do'a saya saat itu dalam hati.
Saya baca buku tersebut sudah lama sekali. Tapi..tiba-tiba dua minggu yang lalu teringat kembali dengan buku itu, karena Keponakan saya yang lucu (Disya Shaliha, 6thn), memukul sebuah bangku yang jelas-jelas tidak punya salah sama sekali.
Kejadiannya begini....
Saat itu, kami sedang makan siang bersama di Wendys, Bintaro Plasa. Seperti biasanya..saat makan, Disya berlari ke sana ke mari dengan lincahnya. Saya dan ibu nya (kakak saya) sedang asyik ngobrol. Tiba-tiba, Disya meloncat ke bangku yang kosong yang ada di belakang ibunya. Namun sayang, salah satu kakinya tersangkut di pinggir kursi sehingga dirinya limbung dan wajahnya terjerembab di sandaran kursi. Seketika saja, tangan mungilnya memukul kursi tersebut.
Saya yang melihat kejadian tersebut, sontak merasa kaget. Selama ini kakak saya tidak pernah mengajarkan hal tersebut padanya. Saya yakin betul dengan pola pendidikan kakak saya. Tambah lagi saya sudah menstanfer pengetahuan saya pada kakak saya tersebut dengan meminjamkan buku SALAHNYA KODOK, dan kami sempat berdiskusi panjang tentang buku tersebut. Yang intinya, kami berdua setuju dengan isi buku SALAH NYA KODOk itu
Maka saya pun bertanya pada Disya...
"Sayang..kenapa bangku nya kamu pukul?"
"Abis...bangkunya nakal T'em (panggilan sayang dari keponakan2 saya).." jawabnya. "Nakal..kenapa?"
"Iya,nakal...abis bikin Disya jadi jatuh:" jawabnya lagi
Saya langsung memandang kakak saya. Terlihat dia pun kaget dengan jawaban anaknya itu. Namun dia memandang balik pada saya, dari sinar matanya tersirat bahwa saya diizinkan untuk melanjutkan diskusi saya dengan Disya.
"Sayang...bangku nya tidak nakal...tapi kamu nya yang kurang hati-hati. Khan...dari tadi bangku nya diem aja...ga bergerak sama sekali" ucap saya. "Besok-besok kamu harus lebih hati-hati ya"
"Ga...T'em...bangkunya emang nakal...dia tadi iseng..sengaja bikin aku jatuh"
"Sayang..dari tadi aku ga liat bangku itu bergerak. Jadi gimana mungkin dia mau iseng?"
"Bergerak koq T'em...Pokoknya bangku ini nakal" Disya mulai menunjukkan "taring"nya. Keponakan saya yang satu ini memang punya pendirian yang sangat keras. Tapi jika diajak diskusi, dia mau merubah pendiriannya.
"Ga sayang...bangkunya ga nakal" sergah saya...
"Nakal T'em.." Disya mulai pasang wajah cemberut..
Detik itu saya terdiam. Saya pikir sebaiknya saya hentikan sementara perdebatan kecil kami. Saya mencoba mengoreksi diri. Apa pilihan kata yang saya pakai salah..sehingga komunikasi kami kurang efektif? Apa memang si makhluk mungil itu sedang menunjukan jati dirinya?
Sekali lagi...saya tatap wajah kakak saya yang tepat ada di hadapan. Dia hanya mengangkat bahunya. Akhirnya kami memilih untuk menunda...diskusi dengan Disya..dan kami terlibat dengan percakapan yang lain.
Setelah beberapa saat, barulah kakak saya mengungkap kekecewaan atas sikap Disya tadi. Dia yakin benar bahwa selama ini, dia tidak mencontohkan "SALAHNYA KODOK" pada Disya. Dia pun yakin bahwa Di sekolahnya (TK HOM PIM PA) juga tidak di contohkan hal tersebut.
JADI SIAPA DONG PELAKUNYA?
Selidik punya selidik....ternyata.. Si Mungil Disya...dapat "pelajaran" tersebut dari Guru TPA nya..
"Hebat juga yaa..." batin saya. "Seorang guru yang ketemu dengan anak didiknya hanya beberapa jam dan beberapa hari dalam seminggu, bisa merubah pola pikir anak. Padahal kami, selama 5 tahun berusaha mendidik Disya tanpa Menyalahkan kodok "
Untungnya...setelah beberapa saat...kami (saya dan kakak saya) bisa memberikan penjelasan pada Disya. Dan untungnya lagi Disya bisa menerima penjelasan kami bedua.
"Duuuhhhh....Disya ku sayang...semoga kamu tidak menjadi 'anak kodok' yaaaa", do'a saya saat itu dalam hati.
Senin, 24 Maret 2008
Aku Ingin Seperti Siti Khadijah
Usia..ku sudah ga bisa di bilang muda lagi. Apalagi di bilang ABG. Semua seluruh keluarga sibuk mencarikan aku pendamping hidup.
Sampai..suatu kali aku bertemu "dia". Sejujurnya aku agak sedikit menimbang-nimbang untuk bisa menerima dia masuk kedalam kehidupan aku nantinya.
Knp?
karena dia berasal dari suku yang sama dengan orang tua ku, walau dia pun sama halnya seperti aku. Lahir dan besar di Jakarta. Malah oleh adik2nya dia dipanggil dengan sebutan Mas...bukan abang atau uda.
Ketika harus melangkah ketahap yang selanjutnya..kendala itu muncul, walau sesaat. KELUARGA KU YANG HARUS DATANG MELAMAR KE KELUARGA NYA. artinya...aku lah yang melamar dia. Secara ego...aku merasa berat....
Dalam perjalanan menuju Mesjid Kubah Emas...aku sempat bertanya pada dia. "apa yang kamu rasakan jika ternyata kita tidak jadi menikah?" Jawabnya...: "aku pasti kecewa"...
Percakapan dihentikan karena suara azan ashar berkumandang di mesjid. "kita Lanjutkan setelah kita sholat Ashar ya..." ujar ku...
Setelah selesai sholat, aku termenung sesaat di dalam mesjid. Ingat dengan percakapan selama 2 menit dengan sahabatku Aisyiah erlin kartika di mobile phone. "So..what mbak? Ingat dengan Ibunda Siti Khadijah?"... Seketika itu juga aku menjadi speechless...tidak ada argumen apa pun lagi. yang terucap..."oke..lin....itu alasan yang fair yang bisa aku terima"
Keluar dari mesjid..aku menemui dia...terlihat wajah tak tenang di sana.
Dalam mobil ku sampaikan..." Sejujurnya secara ego aku ga mau melamar kamu, tapi............. aku ingin seperti Siti Khadijah yang melamar Rasullah sebagai suaminya"
Dia terkejut... dan rasa haru menyeruak diantara kami...
Semoga kami berdua bisa membahagiakan masing-masing orang tua kami...dengan melihat kami hidup bahagia...Amiin...
Mohon do'a nya yaaaaaa....
Ayat- Ayat Cinta
Awalnya kenal dengan Judul Ayat2 Cinta..di Harian Republika, sekitar tahun 2003an (klo ga salah inget)...Setiap pagi jam 6 teng...udah buru2 ke pagar rumah untuk liat Harian tersebut. Ga kepengen kelewatan tuh cerita barang 1 hari pun. Yang paling sebelnya...sempet 2 episode di ulang berturut-turut selama 3 hari...
karena cerita nya menarik, makanya semangat banget buat ngembacanya. Itu juga, alasan saya buat nonton filmnya...cuma sayang...setelah nonton...jadi kecewa. Soalnya ada beberapa hal yang ga sesuai dengan cerita yang pernah saya baca :
1. Tokoh "Fahri" dalam film menjadi orang yang cengeng. Padahal di novelnya dia tegar banget
2. Ada adegan cium bibir, padahal di novel cuma ada cium kening antara Fahri dengan Aisha
3. Cerita nya jadi dangkal
4. Ending ceritanya jauh dari novel...kurang menyentuh dan garing
bgt...BBIIIAAASSSSAAA...geto loh
karena cerita nya menarik, makanya semangat banget buat ngembacanya. Itu juga, alasan saya buat nonton filmnya...cuma sayang...setelah nonton...jadi kecewa. Soalnya ada beberapa hal yang ga sesuai dengan cerita yang pernah saya baca :
1. Tokoh "Fahri" dalam film menjadi orang yang cengeng. Padahal di novelnya dia tegar banget
2. Ada adegan cium bibir, padahal di novel cuma ada cium kening antara Fahri dengan Aisha
3. Cerita nya jadi dangkal
4. Ending ceritanya jauh dari novel...kurang menyentuh dan garing
bgt...BBIIIAAASSSSAAA...geto loh
Minggu, 23 Maret 2008
Catatan akhir tahun (happy ending....finally....)
Minggu ini minggu yang paling berkesan dalam hidup saya selama tahun ini. Jujur, walau banyak planning saya yang belum tercapai, tapi saya merasa bahagia. Karena Tuhan sudah menunjukkan keadilannya pada saya.
Masih teringat dalam memory saya, saat menuliskan kata-kata di friendster milik saya sendiri. Kata-kata tersebut adalah : Life is so beautiful. Hanya saja penuh dengan teka-teki. Terkadang kita (terutama aku) tidak sabar menanti datangnya keindahan tersebut. Tuhan akan memberikan keindahan tepat pada waktunya. Seperti hal nya seekor kupu-kupu. Ia menjadi indah setelah mengalami proses metamorphosis. Sekarang aku memegang prinsip kepompong dan kupu-kupu. Suatu saat aku akan menjadi seekor kupu-kupu yang indah dan siap terbang ke tempat yang indah.
Saat itu, sesungguhnya saya belum yakin dengan apa yang saya tulis. Yang pasti saya sedang memotivasi diri saya sendiri. Hati saya sedang terluka. Harapan saya pupus. Pria “abu-abu” yang selama ini dekat dengan saya, menikah dengan perempuan lain. Walau dia menyangkal mencintai perempuan tersebut. Tapi toh dia menikah juga. Bahkan saat ini ia sudah memiliki seorang anak perempuan dari pernikahan tersebut.
Dalam keterpurukan saat itu, saya mencoba menganalisa hubungan saya dengan dia. Bagai sebuah film, semua kejadian dan percakapan yang pernah terjadi, terulang satu persatu dalam benak saya. Tak hanya itu saja, tiba-tiba saja orang yang pernah menjadi kekasihnya, sebelum ia dekat dengan saya, masuk ke dalam hidup saya. Dari wanita tersebut, saya mendapatkan jawaban atas keganjilan-keganjilan yang terjadi antara saya dengan dia (itu makanya saya selalu sebut dia sebagai pria “abu-abu”). Saat pria “abu-abu” dekat dengan saya ternyata dia juga dekat wanita yang menjadi istrinya sekarang. Sesungguhnya ia sedang membanding-bandingkan saya dengan wanita itu. Yang pada akhirnya, dia menjatuhkan pilihan pada istrinya sekarang, karena wanita itu berasal dari keluarga kaya, memiliki pekerjaan yang bagus, sebagai manager HRD di sebuah pusat perbelanjaan hebat di daerah semanggi, cerdas, dan orang tuanya punya jabatan di perusahaan listrik Negara. Selain itu ia di janjikan akan dibelikan sebuah mobil bagus dan terbaru, jika nantinya mereka menikah.
Sementara saya saat itu, adalah wanita yang dididik dengan segala kesederhanaan. saya bukan wanita cerdas, tapi saya tidak bodoh. Ayah saya hanya lah pegawai negeri yang pensiunnya di percepat beberapa tahun. Saya tidak memiliki jabatan yang bagus. Saya hanya seorang staff guidance and counseling di sebuah sekolah Islam swasta yang ada di lippo cikarang. Mengenai mobil, saya tak punya secara pribadi,walau sesungguhnya milik orang tua saya berjejer beberapa buah di garasi, saya pun tidak bisa menyetir saat itu.
Dengan segala kekurangan tersebut, akhirnya ia meninggalkan saya. Walau sebelum benar-benar menghilang dari kehidupan saya, ia mencoba “meminta secara halus” hal-hal dan barang-barang yang dia butuhkan. Dia tahu, saya terlalu sayang padanya dan akan memberikan yang terbaik untuknya. Terakhir ia mendapatkan sebuah handphone terbaru dari saya. Setelah itu dia menghilang dan tidak diketahui kabarnya. Telepon atau pun sms dari saya tak pernah di responnya.
Saya benar-benar merasa sebagai seorang pecundang. Hari-hari saya lalui dengan berat. Untungnya saat itu Tuhan mempersatukan kembali saya dengan kedua sahabat saya sewaktu di SMA. Mereka yang terus memotivasi dan menghibur saya di saat saya menangis. Mereka yang bisa membuat saya tersenyum dan tertawa. Disamping itu saya pun memiliki rekan-rekan kerja yang baik. Mereka juga berusaha menghibur saat mereka melihat termenung dan sedih.
Tapi saya tidak mau bergantung pada mereka semua. Saya juga harus aktif memotivasi diri saya sendiri. Entah bagaimana, saya menemukan sebuah stasiun radio yang berisi para motivator bagus yang ada di Indonesia, SMART FM. Saya juga membaca buku-buku hasil karya Andrie Wongso. Saya ikut fitness. Saya membuka diri dengan mengenal banyak orang, entah melalui chatt atau pun melalui friendster. Saya temui mereka satu persatu.
Namun ternyata ketegaran hati saya masih harus di coba. Sebulan sebelum dia menikah, saya harus mengundurkan diri dari pekerjaan. Terjadi ketidak harmonisan antara saya dan pimpinan. Saya kembali merasa sebagai pecundang. Benar-benar hidup tak berharga. Dukungan dari rekan kerja mulai berkurang. Karena kesibukan dan jarak yang memisahkan kami. Tinggallah kedua sahabat saya yang intens menghubungi saya. Mereka pun menangis ketika saya menangis,dan terus menghibur.
Dalam kondisi seperti itu saya berusaha terlihat tegar dan tersenyum. Namun sesungguhnya hati kecil saya protes. Kenapa Tuhan tidak memperbolehkan saya untuk memilikinya, padahal saya berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan pria itu, saya sudah dengan segala kerendahan hati memohon dan munajat pada Tuhan agar saya diberikan kesempatan berjodoh dengannya. Tapi semua itu tak di kabulkan-Nya.
Sekali lagi, dalam hati saya bertanya, jika memang ia bukan orang baik, kenapa ia mendapatkan semua yang terbaik dalam hidupnya. Sementara saya yang berusaha mendekatkan diri pada Tuhan, malah mendapatkan hal-hal yang tidak menyenangkan dalam hidup saya. “Mengapa saya terus di uji?” Pertanyaan itu terus berkecamuk dalam hati saya. Saat itu lah kata-kata yang menjadi filsafat hidup saya muncul. Dan saya tulis dalam friendster saya. Ternyata kata-kata itu mendapat respon yang baik dari orang –orang membacanya. Sedikit demi sedikit saya mulai menginternalisasikan dalam hidup saya.
Waktu berlalu, kedua sahabat saya terus mendampingi saya. Saya juga terus mendengarkan SMART FM. Saya berusaha semakin ikhlas mendekatkan diri pada Tuhan. Sedikit merubah penampilan, kembali mengajar di universitas swasta di bekasi. Terus membuka hubungan baru dengan orang-orang yang saya kenal di friendster dan chatt. Komentar-komentar mereka saat bertemu membuat saya tambah percaya diri.
Dua bulan berjalan, perusahaan tempat saya kerja dulu, menghubungi saya untuk kembali bekerja disana. Setelah negosiasi beberapa hal, akhirnya saya setuju untuk kembali bekerja. Waktu terus berjalan, sampai saya mendapatkan posisi penting dalam perusahaan itu. Saya sudah penuh berada di kantor pusat, di rasuna said, kuningan. Pergaulan saya juga sudah dengan para direksi beberapa anak perusahaan di holding yang sama. Saya pun sudah berangkat ke kantor dengan membawa mobil sendiri (walau bukan mobil baru), karena kondisi yang memaksa. Pagi bekerja di kuningan, malam mengajar di bekasi.
Sebelas bulan dari pernikahannya, saya mendapat kabar bahwa anaknya lahir. Entah mengapa, ketika mendengar berita itu, sekujur tubuh saya menggigil. Lagi-lagi saya merasa sebagai pecundang. Lengkap sudah kehidupannya. Hati tergoda untuk merasa bahwa Tuhan tidak adil pada saya. Saya menjadi ragu dengan kata-kata yang saya buat. But the show must go on…
Awal desember, (16 bulan dari pernikahannya) lagi-lagi saya merasa saya adalah pecundang. Saya terus memotivasi diri saya dengan kata-kata itu. Sampai akhirnya, ada permintaan dari anak perusahaan lain, yang meminta saya untuk mencarikan kandidat yang akan diposisikan sebagai manager HRD. Kebetulan saya dengar, pria “abu-abu” ini sedang gelisah mencari tempat pekerjaan baru. Ternyata istrinya belum bisa mencarikan tempat yang baik untuk ia bekerja. Jadi saya tawarkan posisi itu padanya. Ia segera merespon sms saya. Saya tidak merasa heran akan respon baik darinya. Karena saya tahu, salary yang ditawarkan dua kali lipat dari yang ia inginkan. Maka dibuatlah appointment untuk ketemu dengan direktur yang membutuhkan staff tersebut.
Hari itu menjadi hari terpenting dalam hidup saya. “ini saatnya ia membukti kan semua sesumbar yang pernah ia sampaikan ke aku dulu” batin saya. Saya temui dia di lobby kantor, sengaja saya tak temui di ruang kerja saya, karena bukanlah orang yang penting buat perusahaan saya. Saya antar dia ke ruang direksi dan bertemu dengan direktur yang akan menginterviewnya. Kemudian saya tinggalkan. Satu jam kemudian, ia kembali diantar menemui saya. Lagi-lagi saya hanya menyuruhnya duduk di ruang tamu di lobby kantor. Saya berusaha dengan santai meladeni obrolannya. Entah kenapa, dia menyatakan bahwa saya jauh berubah.
Tidak itu saja, ia memuji atas kemajuan yang saya alami. Ia juga menyatakan bahwa di terima tidaknya di posisi yang ditawarkan tergantung pada saya. Bagaimana promosi saya tentang dia kepada direktur yang bersangkutan. Saya hanya tersenyum kecil, karena dia benar, direktur itu akan menerima dia atas dasar rekomendasi saya. Dia berharap bisa mendapatkan pekerjaan itu, walau terlihat biasa, tapi sesungguhnya ada permohonan dalam ucapannya pada saya. Setelah berbincang sebentar, saya menyatakan saya harus kembali bekerja, karena pekerjaan saya sedang banyak. Sebelum pergi, dia berharap bisa untuk bertemu saya kembali pada esok harinya.
Namun ternyata ke esokan harinya, pertemuan itu batal terjadi, ia tidak bisa pergi, karena hujan lebat sekali pada hari itu. Dari sms yang ia kirimkan pada saya hari itu, saya ketahui ternyata ia masih menggunakan motor bututnya untuk pergi ke kantor. Ternyata istri nya yang ia pilih, bukanlah wanita sempurna seperti yang ia ceritakan. Detik itu saya teringat dengan kata-kata saya, yang saya tulis di friendster. Tuhan memang memberikan keindahan tepat pada waktunya. Butuh proses. Dan saat ini saya seperti seekor kupu-kupu yang indah dan siap terbang ke tempat yang indah. Alhamdulillah ..So…I’m not the loser…but I’m the winner…………………………………………………………….
(Tulisan ini dibuat pada tanggal 27 Desember 2007, di publish di blog ku di Friendster. Namun demi seorang teman "Bunda Dewi" akhirnya tulisan ini aku share juga di blogspotku ini)
Masih teringat dalam memory saya, saat menuliskan kata-kata di friendster milik saya sendiri. Kata-kata tersebut adalah : Life is so beautiful. Hanya saja penuh dengan teka-teki. Terkadang kita (terutama aku) tidak sabar menanti datangnya keindahan tersebut. Tuhan akan memberikan keindahan tepat pada waktunya. Seperti hal nya seekor kupu-kupu. Ia menjadi indah setelah mengalami proses metamorphosis. Sekarang aku memegang prinsip kepompong dan kupu-kupu. Suatu saat aku akan menjadi seekor kupu-kupu yang indah dan siap terbang ke tempat yang indah.
Saat itu, sesungguhnya saya belum yakin dengan apa yang saya tulis. Yang pasti saya sedang memotivasi diri saya sendiri. Hati saya sedang terluka. Harapan saya pupus. Pria “abu-abu” yang selama ini dekat dengan saya, menikah dengan perempuan lain. Walau dia menyangkal mencintai perempuan tersebut. Tapi toh dia menikah juga. Bahkan saat ini ia sudah memiliki seorang anak perempuan dari pernikahan tersebut.
Dalam keterpurukan saat itu, saya mencoba menganalisa hubungan saya dengan dia. Bagai sebuah film, semua kejadian dan percakapan yang pernah terjadi, terulang satu persatu dalam benak saya. Tak hanya itu saja, tiba-tiba saja orang yang pernah menjadi kekasihnya, sebelum ia dekat dengan saya, masuk ke dalam hidup saya. Dari wanita tersebut, saya mendapatkan jawaban atas keganjilan-keganjilan yang terjadi antara saya dengan dia (itu makanya saya selalu sebut dia sebagai pria “abu-abu”). Saat pria “abu-abu” dekat dengan saya ternyata dia juga dekat wanita yang menjadi istrinya sekarang. Sesungguhnya ia sedang membanding-bandingkan saya dengan wanita itu. Yang pada akhirnya, dia menjatuhkan pilihan pada istrinya sekarang, karena wanita itu berasal dari keluarga kaya, memiliki pekerjaan yang bagus, sebagai manager HRD di sebuah pusat perbelanjaan hebat di daerah semanggi, cerdas, dan orang tuanya punya jabatan di perusahaan listrik Negara. Selain itu ia di janjikan akan dibelikan sebuah mobil bagus dan terbaru, jika nantinya mereka menikah.
Sementara saya saat itu, adalah wanita yang dididik dengan segala kesederhanaan. saya bukan wanita cerdas, tapi saya tidak bodoh. Ayah saya hanya lah pegawai negeri yang pensiunnya di percepat beberapa tahun. Saya tidak memiliki jabatan yang bagus. Saya hanya seorang staff guidance and counseling di sebuah sekolah Islam swasta yang ada di lippo cikarang. Mengenai mobil, saya tak punya secara pribadi,walau sesungguhnya milik orang tua saya berjejer beberapa buah di garasi, saya pun tidak bisa menyetir saat itu.
Dengan segala kekurangan tersebut, akhirnya ia meninggalkan saya. Walau sebelum benar-benar menghilang dari kehidupan saya, ia mencoba “meminta secara halus” hal-hal dan barang-barang yang dia butuhkan. Dia tahu, saya terlalu sayang padanya dan akan memberikan yang terbaik untuknya. Terakhir ia mendapatkan sebuah handphone terbaru dari saya. Setelah itu dia menghilang dan tidak diketahui kabarnya. Telepon atau pun sms dari saya tak pernah di responnya.
Saya benar-benar merasa sebagai seorang pecundang. Hari-hari saya lalui dengan berat. Untungnya saat itu Tuhan mempersatukan kembali saya dengan kedua sahabat saya sewaktu di SMA. Mereka yang terus memotivasi dan menghibur saya di saat saya menangis. Mereka yang bisa membuat saya tersenyum dan tertawa. Disamping itu saya pun memiliki rekan-rekan kerja yang baik. Mereka juga berusaha menghibur saat mereka melihat termenung dan sedih.
Tapi saya tidak mau bergantung pada mereka semua. Saya juga harus aktif memotivasi diri saya sendiri. Entah bagaimana, saya menemukan sebuah stasiun radio yang berisi para motivator bagus yang ada di Indonesia, SMART FM. Saya juga membaca buku-buku hasil karya Andrie Wongso. Saya ikut fitness. Saya membuka diri dengan mengenal banyak orang, entah melalui chatt atau pun melalui friendster. Saya temui mereka satu persatu.
Namun ternyata ketegaran hati saya masih harus di coba. Sebulan sebelum dia menikah, saya harus mengundurkan diri dari pekerjaan. Terjadi ketidak harmonisan antara saya dan pimpinan. Saya kembali merasa sebagai pecundang. Benar-benar hidup tak berharga. Dukungan dari rekan kerja mulai berkurang. Karena kesibukan dan jarak yang memisahkan kami. Tinggallah kedua sahabat saya yang intens menghubungi saya. Mereka pun menangis ketika saya menangis,dan terus menghibur.
Dalam kondisi seperti itu saya berusaha terlihat tegar dan tersenyum. Namun sesungguhnya hati kecil saya protes. Kenapa Tuhan tidak memperbolehkan saya untuk memilikinya, padahal saya berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan pria itu, saya sudah dengan segala kerendahan hati memohon dan munajat pada Tuhan agar saya diberikan kesempatan berjodoh dengannya. Tapi semua itu tak di kabulkan-Nya.
Sekali lagi, dalam hati saya bertanya, jika memang ia bukan orang baik, kenapa ia mendapatkan semua yang terbaik dalam hidupnya. Sementara saya yang berusaha mendekatkan diri pada Tuhan, malah mendapatkan hal-hal yang tidak menyenangkan dalam hidup saya. “Mengapa saya terus di uji?” Pertanyaan itu terus berkecamuk dalam hati saya. Saat itu lah kata-kata yang menjadi filsafat hidup saya muncul. Dan saya tulis dalam friendster saya. Ternyata kata-kata itu mendapat respon yang baik dari orang –orang membacanya. Sedikit demi sedikit saya mulai menginternalisasikan dalam hidup saya.
Waktu berlalu, kedua sahabat saya terus mendampingi saya. Saya juga terus mendengarkan SMART FM. Saya berusaha semakin ikhlas mendekatkan diri pada Tuhan. Sedikit merubah penampilan, kembali mengajar di universitas swasta di bekasi. Terus membuka hubungan baru dengan orang-orang yang saya kenal di friendster dan chatt. Komentar-komentar mereka saat bertemu membuat saya tambah percaya diri.
Dua bulan berjalan, perusahaan tempat saya kerja dulu, menghubungi saya untuk kembali bekerja disana. Setelah negosiasi beberapa hal, akhirnya saya setuju untuk kembali bekerja. Waktu terus berjalan, sampai saya mendapatkan posisi penting dalam perusahaan itu. Saya sudah penuh berada di kantor pusat, di rasuna said, kuningan. Pergaulan saya juga sudah dengan para direksi beberapa anak perusahaan di holding yang sama. Saya pun sudah berangkat ke kantor dengan membawa mobil sendiri (walau bukan mobil baru), karena kondisi yang memaksa. Pagi bekerja di kuningan, malam mengajar di bekasi.
Sebelas bulan dari pernikahannya, saya mendapat kabar bahwa anaknya lahir. Entah mengapa, ketika mendengar berita itu, sekujur tubuh saya menggigil. Lagi-lagi saya merasa sebagai pecundang. Lengkap sudah kehidupannya. Hati tergoda untuk merasa bahwa Tuhan tidak adil pada saya. Saya menjadi ragu dengan kata-kata yang saya buat. But the show must go on…
Awal desember, (16 bulan dari pernikahannya) lagi-lagi saya merasa saya adalah pecundang. Saya terus memotivasi diri saya dengan kata-kata itu. Sampai akhirnya, ada permintaan dari anak perusahaan lain, yang meminta saya untuk mencarikan kandidat yang akan diposisikan sebagai manager HRD. Kebetulan saya dengar, pria “abu-abu” ini sedang gelisah mencari tempat pekerjaan baru. Ternyata istrinya belum bisa mencarikan tempat yang baik untuk ia bekerja. Jadi saya tawarkan posisi itu padanya. Ia segera merespon sms saya. Saya tidak merasa heran akan respon baik darinya. Karena saya tahu, salary yang ditawarkan dua kali lipat dari yang ia inginkan. Maka dibuatlah appointment untuk ketemu dengan direktur yang membutuhkan staff tersebut.
Hari itu menjadi hari terpenting dalam hidup saya. “ini saatnya ia membukti kan semua sesumbar yang pernah ia sampaikan ke aku dulu” batin saya. Saya temui dia di lobby kantor, sengaja saya tak temui di ruang kerja saya, karena bukanlah orang yang penting buat perusahaan saya. Saya antar dia ke ruang direksi dan bertemu dengan direktur yang akan menginterviewnya. Kemudian saya tinggalkan. Satu jam kemudian, ia kembali diantar menemui saya. Lagi-lagi saya hanya menyuruhnya duduk di ruang tamu di lobby kantor. Saya berusaha dengan santai meladeni obrolannya. Entah kenapa, dia menyatakan bahwa saya jauh berubah.
Tidak itu saja, ia memuji atas kemajuan yang saya alami. Ia juga menyatakan bahwa di terima tidaknya di posisi yang ditawarkan tergantung pada saya. Bagaimana promosi saya tentang dia kepada direktur yang bersangkutan. Saya hanya tersenyum kecil, karena dia benar, direktur itu akan menerima dia atas dasar rekomendasi saya. Dia berharap bisa mendapatkan pekerjaan itu, walau terlihat biasa, tapi sesungguhnya ada permohonan dalam ucapannya pada saya. Setelah berbincang sebentar, saya menyatakan saya harus kembali bekerja, karena pekerjaan saya sedang banyak. Sebelum pergi, dia berharap bisa untuk bertemu saya kembali pada esok harinya.
Namun ternyata ke esokan harinya, pertemuan itu batal terjadi, ia tidak bisa pergi, karena hujan lebat sekali pada hari itu. Dari sms yang ia kirimkan pada saya hari itu, saya ketahui ternyata ia masih menggunakan motor bututnya untuk pergi ke kantor. Ternyata istri nya yang ia pilih, bukanlah wanita sempurna seperti yang ia ceritakan. Detik itu saya teringat dengan kata-kata saya, yang saya tulis di friendster. Tuhan memang memberikan keindahan tepat pada waktunya. Butuh proses. Dan saat ini saya seperti seekor kupu-kupu yang indah dan siap terbang ke tempat yang indah. Alhamdulillah ..So…I’m not the loser…but I’m the winner…………………………………………………………….
(Tulisan ini dibuat pada tanggal 27 Desember 2007, di publish di blog ku di Friendster. Namun demi seorang teman "Bunda Dewi" akhirnya tulisan ini aku share juga di blogspotku ini)
Senin, 18 Februari 2008
Flexi..
Flexi…it’s my pleki.. TETAP JADI ANDALAN
Dalam keseharian, saya mengandalkan telepon genggam saya dari jenis CDMA (walau saya juga memiliki jenis GSM) . Kebetulan produk yang saya pilih adalah Flexi. Ini sudah berlangsung selama 3 tahun, tepatnya akhir tahun 2005. Alasan saya saat memilih flexi adalah harga pulsa yang murah, sekaligus provider nya yang cukup andal. Dulu, ketika saya masih pra bayar, dengan pulsa seribu rupiah, saya masih bisa menelpon ke nomer GSM selama sekitar 2 sampai 3 menit, padahal saat itu, dari telepon GSM saya, pulsa 1500 rupiah saja sudah tidak dapat melakukan panggilan.
Kemudahan semakin saya rasakan ketika saya sudah migrasi dari pra bayar ke pasca bayar. Walau dua bulan pertama saya sempat tertagih sebesar 800 ribu rupiah untuk setiap bulannya, tapi saya merasa puas. Karena aktifitas saya menelpon saat itu memang gila-gilaan. Bukan karena kebablasan, tapi saya memang membutuhkan komunikasi yang cukup banyak saat itu. Mungkin kalau saya menggunakan GSM, bisa dua atau tiga kali lipat dari tagihan tersebut. Karena kepuasan saya menggunakan flexi, maka secara langsung maupun tidak langsung saya mempromosikan flexi kepada semua teman dan sahabat ,maklum saya khan staff public relation. Dan sebagian besar terpengaruh dengan promosi saya.
Akhir tahun 2007, kenyamanan saya menggunakan flexi agak terganggu. Terkadang, saat sedang asyiknya berbicara, tiba-tiba telepon mengalami call drop atau call ended. Malah terkadang selalu mengalami call failed . Ini terjadi karena Flexi mengalami perubahan jalur. Kondisi seperti ini terkadang membuat saya kesal, tapi tak jarang pula membuat saya tersenyum atau mungkin tertawa terbahak-bahak.
Hal ini terjadi ketika saya sedang asyik bergosip ria dengan sahabat saya saat di SMA, Meita Imelda. Saat itu meita sedang seru-serunya bercerita tentang pacar barunya. Tiba-tiba flexi mengalami call drop. Meita tidak menyadari apa yang terjadi. Dia terus saja bercerita. Saya yang menyadari kondisi itu, berupaya untuk menelpon ia kembali. Tentu saja membuat Meita, sahabat saya itu terkejut setengah mati. Bagaimana tidak, telepon yang masih menempel di telinganya tiba-tiba berbunyi nyaring. Setelah menyadari apa yang terjadi, ia langsung mengomel. “Jadi dari tadi gue ngomong sendirian dong….”. Karena seringnya kejadian terbut berulang, maka sahabat saya memberi julukan untuk flexi dengan nama pleki.
Namun dengan kondisi seperti itu, saya tidak berniat beralih dari si pleki. Kemana pun saya pergi, selalu saya gunakan. Sampai minggu lalu, pada sore hari, saya baru tersadar bahwa pleki saya tidak dapat saya gunakan. “Pantes aja niy pleki anteng” batin saya. Langsung saya menghubungi 147 dan melaporkan kondisi pleki saya tersebut. Oleh operator saya di harapkan untuk menunggu perbaikan dari central. Tunggu punya tunggu sampai seminggu dan setelah saya melapor beberapa kali, akhirnya saya di sarankan untuk mengunjungi Plasa Telkom yang terdekat dari rumah (pasar rebo). Disana saya di layani dengan ramah. Customer service nya pun cantik. Saya malah sempat menanyakan lipstik yang dia gunakan, karena terlihat bagus dan natural. Itu pun di jawab dengan ramah.
Setelah diselediki, ternyata kesalahan ada pada diri saya. Dua minggu sebelumnya, saya melakukan perjalanan ke luar kota dan lupa (apa memang ga tau..???) menonaktifkan COMBO saya. Sebenarnya, selama ini tanpa menonaktifkan pun, combo akan otomatis mati bila kita kembali ke kota asal. Hanya saja, saat ini karena adanya proses memindahan jalur,kondisi Flexi mengalami kendala. Dan ketidak tahuan ini bertambah fatal, karena saya melakukan perjalanan ke tiga kota yang berbeda dalam 6 hari. Sinyal telepon saya mengalami ke kusutan di udara sana. (hehehe mana saya tahu. Wong iklan nya di TV cuma bilang “On spasi kota tujuan..kirim ke 777” ). Dari kejadian ini saya baru faham bahwa combo pun harus di non aktifkan.
1. Aktivasi Otomatis
ON (spasi) kode Area atau Nama kota tujuan kirim ke 777
Contoh : ON Bandung atau ON 022
Untuk mengaktifkan Call Forrwarding : Tekan *77 (ok)
2. Deaktivasi Otomatis
OFF (spasi) kode Area atau Nama kota tujuan kirim ke 777
Contoh : OFF Bandung atau OFF 022
3. Perpanjangan Combo
RENEW kirim ke 777
4. Mengetahui Nomor Yang Sedang Aktif
LIST kirim ke 777
Semoga teman-teman semua ga mengalami kondisi seperti saya yaaaaa……..
Dalam keseharian, saya mengandalkan telepon genggam saya dari jenis CDMA (walau saya juga memiliki jenis GSM) . Kebetulan produk yang saya pilih adalah Flexi. Ini sudah berlangsung selama 3 tahun, tepatnya akhir tahun 2005. Alasan saya saat memilih flexi adalah harga pulsa yang murah, sekaligus provider nya yang cukup andal. Dulu, ketika saya masih pra bayar, dengan pulsa seribu rupiah, saya masih bisa menelpon ke nomer GSM selama sekitar 2 sampai 3 menit, padahal saat itu, dari telepon GSM saya, pulsa 1500 rupiah saja sudah tidak dapat melakukan panggilan.
Kemudahan semakin saya rasakan ketika saya sudah migrasi dari pra bayar ke pasca bayar. Walau dua bulan pertama saya sempat tertagih sebesar 800 ribu rupiah untuk setiap bulannya, tapi saya merasa puas. Karena aktifitas saya menelpon saat itu memang gila-gilaan. Bukan karena kebablasan, tapi saya memang membutuhkan komunikasi yang cukup banyak saat itu. Mungkin kalau saya menggunakan GSM, bisa dua atau tiga kali lipat dari tagihan tersebut. Karena kepuasan saya menggunakan flexi, maka secara langsung maupun tidak langsung saya mempromosikan flexi kepada semua teman dan sahabat ,maklum saya khan staff public relation. Dan sebagian besar terpengaruh dengan promosi saya.
Akhir tahun 2007, kenyamanan saya menggunakan flexi agak terganggu. Terkadang, saat sedang asyiknya berbicara, tiba-tiba telepon mengalami call drop atau call ended. Malah terkadang selalu mengalami call failed . Ini terjadi karena Flexi mengalami perubahan jalur. Kondisi seperti ini terkadang membuat saya kesal, tapi tak jarang pula membuat saya tersenyum atau mungkin tertawa terbahak-bahak.
Hal ini terjadi ketika saya sedang asyik bergosip ria dengan sahabat saya saat di SMA, Meita Imelda. Saat itu meita sedang seru-serunya bercerita tentang pacar barunya. Tiba-tiba flexi mengalami call drop. Meita tidak menyadari apa yang terjadi. Dia terus saja bercerita. Saya yang menyadari kondisi itu, berupaya untuk menelpon ia kembali. Tentu saja membuat Meita, sahabat saya itu terkejut setengah mati. Bagaimana tidak, telepon yang masih menempel di telinganya tiba-tiba berbunyi nyaring. Setelah menyadari apa yang terjadi, ia langsung mengomel. “Jadi dari tadi gue ngomong sendirian dong….”. Karena seringnya kejadian terbut berulang, maka sahabat saya memberi julukan untuk flexi dengan nama pleki.
Namun dengan kondisi seperti itu, saya tidak berniat beralih dari si pleki. Kemana pun saya pergi, selalu saya gunakan. Sampai minggu lalu, pada sore hari, saya baru tersadar bahwa pleki saya tidak dapat saya gunakan. “Pantes aja niy pleki anteng” batin saya. Langsung saya menghubungi 147 dan melaporkan kondisi pleki saya tersebut. Oleh operator saya di harapkan untuk menunggu perbaikan dari central. Tunggu punya tunggu sampai seminggu dan setelah saya melapor beberapa kali, akhirnya saya di sarankan untuk mengunjungi Plasa Telkom yang terdekat dari rumah (pasar rebo). Disana saya di layani dengan ramah. Customer service nya pun cantik. Saya malah sempat menanyakan lipstik yang dia gunakan, karena terlihat bagus dan natural. Itu pun di jawab dengan ramah.
Setelah diselediki, ternyata kesalahan ada pada diri saya. Dua minggu sebelumnya, saya melakukan perjalanan ke luar kota dan lupa (apa memang ga tau..???) menonaktifkan COMBO saya. Sebenarnya, selama ini tanpa menonaktifkan pun, combo akan otomatis mati bila kita kembali ke kota asal. Hanya saja, saat ini karena adanya proses memindahan jalur,kondisi Flexi mengalami kendala. Dan ketidak tahuan ini bertambah fatal, karena saya melakukan perjalanan ke tiga kota yang berbeda dalam 6 hari. Sinyal telepon saya mengalami ke kusutan di udara sana. (hehehe mana saya tahu. Wong iklan nya di TV cuma bilang “On spasi kota tujuan..kirim ke 777” ). Dari kejadian ini saya baru faham bahwa combo pun harus di non aktifkan.
1. Aktivasi Otomatis
ON (spasi) kode Area atau Nama kota tujuan kirim ke 777
Contoh : ON Bandung atau ON 022
Untuk mengaktifkan Call Forrwarding : Tekan *77 (ok)
2. Deaktivasi Otomatis
OFF (spasi) kode Area atau Nama kota tujuan kirim ke 777
Contoh : OFF Bandung atau OFF 022
3. Perpanjangan Combo
RENEW kirim ke 777
4. Mengetahui Nomor Yang Sedang Aktif
LIST kirim ke 777
Semoga teman-teman semua ga mengalami kondisi seperti saya yaaaaa……..
Senin, 13 Agustus 2007
Life Is so beautiful, but need some patience...
Aku ga tau...apa judul yg aku taruh sudah benar...
Inti nya aku mau bilang bahwa hidup itu indah, hanya butuh kesabaran dan kesadaran penuh, terutama untuk berjuang.
Malam ini, aku bertemu dengan teman kuliah ku saat mengambil program pendidikan profesi psikologi.sebuah pertemuan yang bisa dibilang mendadak, tanpa perencanaan yg matang. Tapi memang harus begitu, karena setiap kali kami merencanakan untuk bertemu, selalu pada detik-detik terakhir, rencana itu malah buyar.
Topik pembicaraan malam ini tentang kegagalan ku menemukan belahan jiwa (Soulmate), dimana aku menaruh harapan pada seseorang yang jauh berada di luar pulau jawa, namun harapan itu harus kandas. Dia sudah memiliki calon. Dan aku memutuskan untuk berhenti berharap.
Namun, aku harus sangat bersyukur, karena Allah telah memberikan hidup yang Indah buat aku sampai detik ini. mengapa demikian?????
Selain membicarakan "keapesan" ku, temanku tersebut menceritakan tentang pernikahannya yg baru berjalan 1,5 tahun. Pernikahannya buat aku sangat complicated. Pada usia pernikahan nya yang pertama, issue untuk bercerai sudah digaungkan. Teman ku berencana untuk mengajukan perceraian ke pengadilan Agama, tapi selalu berhasil kami gagalkan. Begitu panjang diskusi dan perdebatan yang kami lakukan. Yang pada akhirnya memiliki pengaruh buat dia dalam mengambil keputusan untuk melanjutkan biduk rumah tangga nya.
Beberapa bulan yang lalu, saat jakarta mengalami musibah banjir besar, pagi hari saat aku akan berangkat kerja, tiba-tiba aku menerima sms yang mengejutkan dari teman ku itu. Ia minta aku menemaninya untuk menemui mama mertua nya, guna menyampaikan maksud hatinya untuk bercerai. aku masih saja kaget, walau kejadian itu sudah kesekian kali nya. untungnya rencana itu gagal karena jakarta tergenang banjir. saat itu aku dan teman ku yang lain langsung menyusun strategi agar dia bisa mempertahankan pernikahannya yg baru seumur jagung.
Rencana saat itu adalah, mencarikan tempat kerja yang baru, menyuruhnya untuk segera kos dan keluar dari rumah orang tua nya. Alhamdulillah aku berhasil menemukan tempat bekerja buat nya. Jadwal kerja jauh lebih padat dari yang sebelumnya. walhasil, dia bisa menghabiskan tenaga dan kecerdasan yg dia miliki. Kondisi ini ternyata sangat berpengaruh buat dia. Suatu perubahan yang sangat cepat. Setelah bekerja ditempat baru, temanku itu memutuskan untuk tinggal satu rumah dengan suaminya.
Aku anggap permasalahannya telah selesai. Sabtu, kira-kira 2 minggu yang lalu, saat kami makan siang di bogor, aku melihat kebahagiaan di wajahnya.
Tapi jum'at sore, 3 hari yang lalu, dia kembali SMS dan menyatakan akan bercerai. Malah ditambah berita bahwa ia akan berkenalan dengan pria mapan yang bekerja sebagai seorang dokter. Jujur...aku termenung membaca SMS itu. Aku tidak berkomentar apa-apa.
Tadi siang aku sengaja menelpon untuk mengajaknya bertemu. Alhasil malam ini kami bertemu dan setelah melalui diskusi yang cukup panjang, ia menemukan insight nya sendiri. Suami nya adalah lelaki yang terbaik yang diberikan Allah buat dia, walau memiliki banyak kekurangan.
Kondisi ini juga menyadarkan kami, bahwa pria dan wanita memiliki gaya komunikasi yang berbeda. Walau pada akhirnya pria dan wanita, khususnya pasangan suami dan istri, memiliki tujuan sama: membahagiakan pasagan masing-masing.
Dari kasus ini aku belajar bahwa: Hidup ini indah, hanya saja butuh kesabaran. Juga kesadaran. Dan aku juga harus bersyukur bahwa kandasnya harapan ku bukanlah hal yang menyedihkan. Pastilah Allah akan memberikan yang terbaik agar hidup aku akan menjadi lebih Indah...
Inti nya aku mau bilang bahwa hidup itu indah, hanya butuh kesabaran dan kesadaran penuh, terutama untuk berjuang.
Malam ini, aku bertemu dengan teman kuliah ku saat mengambil program pendidikan profesi psikologi.sebuah pertemuan yang bisa dibilang mendadak, tanpa perencanaan yg matang. Tapi memang harus begitu, karena setiap kali kami merencanakan untuk bertemu, selalu pada detik-detik terakhir, rencana itu malah buyar.
Topik pembicaraan malam ini tentang kegagalan ku menemukan belahan jiwa (Soulmate), dimana aku menaruh harapan pada seseorang yang jauh berada di luar pulau jawa, namun harapan itu harus kandas. Dia sudah memiliki calon. Dan aku memutuskan untuk berhenti berharap.
Namun, aku harus sangat bersyukur, karena Allah telah memberikan hidup yang Indah buat aku sampai detik ini. mengapa demikian?????
Selain membicarakan "keapesan" ku, temanku tersebut menceritakan tentang pernikahannya yg baru berjalan 1,5 tahun. Pernikahannya buat aku sangat complicated. Pada usia pernikahan nya yang pertama, issue untuk bercerai sudah digaungkan. Teman ku berencana untuk mengajukan perceraian ke pengadilan Agama, tapi selalu berhasil kami gagalkan. Begitu panjang diskusi dan perdebatan yang kami lakukan. Yang pada akhirnya memiliki pengaruh buat dia dalam mengambil keputusan untuk melanjutkan biduk rumah tangga nya.
Beberapa bulan yang lalu, saat jakarta mengalami musibah banjir besar, pagi hari saat aku akan berangkat kerja, tiba-tiba aku menerima sms yang mengejutkan dari teman ku itu. Ia minta aku menemaninya untuk menemui mama mertua nya, guna menyampaikan maksud hatinya untuk bercerai. aku masih saja kaget, walau kejadian itu sudah kesekian kali nya. untungnya rencana itu gagal karena jakarta tergenang banjir. saat itu aku dan teman ku yang lain langsung menyusun strategi agar dia bisa mempertahankan pernikahannya yg baru seumur jagung.
Rencana saat itu adalah, mencarikan tempat kerja yang baru, menyuruhnya untuk segera kos dan keluar dari rumah orang tua nya. Alhamdulillah aku berhasil menemukan tempat bekerja buat nya. Jadwal kerja jauh lebih padat dari yang sebelumnya. walhasil, dia bisa menghabiskan tenaga dan kecerdasan yg dia miliki. Kondisi ini ternyata sangat berpengaruh buat dia. Suatu perubahan yang sangat cepat. Setelah bekerja ditempat baru, temanku itu memutuskan untuk tinggal satu rumah dengan suaminya.
Aku anggap permasalahannya telah selesai. Sabtu, kira-kira 2 minggu yang lalu, saat kami makan siang di bogor, aku melihat kebahagiaan di wajahnya.
Tapi jum'at sore, 3 hari yang lalu, dia kembali SMS dan menyatakan akan bercerai. Malah ditambah berita bahwa ia akan berkenalan dengan pria mapan yang bekerja sebagai seorang dokter. Jujur...aku termenung membaca SMS itu. Aku tidak berkomentar apa-apa.
Tadi siang aku sengaja menelpon untuk mengajaknya bertemu. Alhasil malam ini kami bertemu dan setelah melalui diskusi yang cukup panjang, ia menemukan insight nya sendiri. Suami nya adalah lelaki yang terbaik yang diberikan Allah buat dia, walau memiliki banyak kekurangan.
Kondisi ini juga menyadarkan kami, bahwa pria dan wanita memiliki gaya komunikasi yang berbeda. Walau pada akhirnya pria dan wanita, khususnya pasangan suami dan istri, memiliki tujuan sama: membahagiakan pasagan masing-masing.
Dari kasus ini aku belajar bahwa: Hidup ini indah, hanya saja butuh kesabaran. Juga kesadaran. Dan aku juga harus bersyukur bahwa kandasnya harapan ku bukanlah hal yang menyedihkan. Pastilah Allah akan memberikan yang terbaik agar hidup aku akan menjadi lebih Indah...
Langgan:
Entri (Atom)
